Minggu, 09 Desember 2012

AKALAH STANDAR SISTEM INFORMASI MANAJEMEN


MAKALAH STANDAR SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

BAB  I
PENDAHULUAN


1.      LATAR BELAKANG

            Keinginan kuat Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI tentang pemanfaatan Teknologi Informasi terlihat jelas saat memberikan arahan dalam pembukaan Konsinyasi Penyusunan Sistem Informasi Manajemen Keperawatan 20 Juni 2011 di Braja Mustika Hotel & Convention Centre Bogor. Selama 4 hari, peserta yang terdiri dari jajaran Direktorat Pelayanan Keperawatan, Perwakilan PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia), Akademisi dari Universitas Indonesia dan perwakilan beberapa rumah sakit, menyusun pedoman SIM Keperawatan yang akan dijadikan standar nasional.

            Tentu ini sebuah kemajuan dari Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan, mengingat selama ini sistem informasi keperawatan berkembang sesuai dengan kondisi masing-masing rumah sakit dan sedikit sekali mendapatkan dukungan manajemen rumah sakit. Banyaknya variasi dari aplikasi yang dibuat, memang perlu kiranya dibuat sebuah standar agar bisa dijadikan acuan rumah sakit dalam pengembangan SIM Keperawatan yang terintegrasi dengan SIM RS.

            Saya tidak tahu pasti kesiapan Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan dalam rencana uji coba dan evaluasi SIM Keperawatan yang akan diujicobakan di 4 propinsi (Bali, DIY, Jawa Barat dan Sumatra Utara). Karena saya tahu persis, penerapan SIM Keperawatan tidak akan bisa terealisasi dengan baik manakala belum menggunakan standar bahasa keperawatan (SNL). Sementara SNL masih merupakan makhluk asing bagi sebagian besar teman-teman perawat.

            Bila melihat schedule yang sudah dibuat, bulan September harus sudah ada hasil evaluasi dari penerapan sistem itu yang telah diujicobakan pada bulan Agustus 2011. Konsekuensinya team harus berjibaku untuk sosialisasi SNL dulu sebelum SIM diterapkan. Tapi tentu Direktorat Keperawatan memiliki pertimbangan lain, kemungkinan yang akan diujicobakan adalah content dari SIM Keperawatan itu.

            Tapi ini adalah kemajuan yang patut diapresiasi oleh kita semua, karena tidak ada gading yang tak retak. Kemauan itu yang mesti diapresiasi, dan mudah-mudahan kita segera mempunyai Sistem Informasi Manajemen Keperawatan yang standar.


            Beberapa aplikasi yang akan diujicobakan dalam SIM Keperawatan antara lain:
a.   Manajemen Asuhan Keperawatan

  1. Dokumen Proses Keperawatan yang terdiri dari Pengkajian; Diagnosa, Perencanaan, Implemetasi dan Evaluasi
  2. Dokumentasi Keselamatan Pasien (patient safety) yang terdiri dari Ketepatan identifikasi pasien; Peningkatan komunikasi yang efektif; Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai; Ketepatan pasien yang di operasi;
  3. Pengurangan resiko infeksi; Pengurangan resiko pasien jatuh. Aplikasi ini memfasilitasi dalam pengkajian pasien resiko jatuh, menampilkan dalam dashdoard monitoring pasien yang beresiko sekaligus memfasilitasi form KTD/KNC yang dikeluarkan oleh KKPRS
  4. Dokumentasi indikator mutu pelayanan  keperawatan klinik. Poin-poin indikator mutu pelayanan keperawatan adalah Keselamatan pasien (patient safety);Perawatan diri; Kepuasan pasien; Kecemasan; Kenyamanan; Pengetahuan. Agar pelaporan indikator mutu pelayanan keperawatan menjadi valid, maka sistem didesain agar data yang ditampilkan oleh sistem dapat diklarifikasi mengenai sumber data dasarnya (nama pasien, ruang, tanggal kejadian dll).

b.   Manajemen Pelayanan Keperawatan
  1. Ketenagaan. Sistem didesain untuk memenuhi data base tenaga, standar ketenagaan keperawatan, pola ketenagaan, jenjang karir, perencanan pengembangan tenaga, perencanaan kebutuhan, kompetensi, rekrutmen, mutasi, rotasi, jadwal dinas, angka kredit perawat, kinerja perawat. Sistem juga mampu menampilkan pelaporan ketenagaan sesuai kebutuhan (customize).
  2. Fasilitas keperawatan. Sistem didesain untuk memfasilitasi standar peralatan keperawatan, perencanaan kebutuhan, pemakaian, mutasi dan pemeliharaan fasilitas keperawatan
  3. Metode. Sistem juga memfasilitasi Model Pelayanan Keperawatan, Standar Prosedur Operasional, Standar Asuhan Keperawatan berdasarkan Evidance Base Nursing, Pedoman pengelolaan etik, supervisi keperawatan
  4. Keuangan.  Sistem mampu memfasilitasi remunerasi tenaga keperawatan, pembiyaan pasien dari pelayanan keperawatan, analisis base costing, unit cost
  5. Laporan Rawat Inap, Rawat Jalan dan Perawatan Khusus
  6. Dokumen kinerja perawat
  7. Dokumen efisiensi pembiayaan pasien
  8. Akreditasi Pokja Pelayanan Perawatan Rumah Sakit
  9. Dan lain lain aplikasi yang mungkin bisa dikembangkan sesuai kebutuhan

2.    RUMUSAN MASALAH

            Makalah ini membahas tentang manajemen sistem informasi rumah sakit dan keperawatan. Pembahasan dalam makalah ini memiliki beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
1.         Apa dimaksud dengan manajemen sistem informasi?
2.         Bagaimana menjelaskan tentang manajemen system rumah sakit dalam pelayanan kesehatan?
3.         Bagaimana cara menggunaknan system manajemen informasi keperawatan dalam suatu rumah sakit ?

3.        TUJUAN

            Secara terperinci tujuan pembahasan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1)      Untuk mengetahui pengertian dari manajemen system informasi
2)      Untuk mengetahui penjelasan tentang manajemen system rumah sakit dalam pelayanan kesehatan
3)      Untuk mengetahui penggunaan system manajemen informasi keperawatan dalam suatu rumah sakit

4.        MANFAAT

1.     Sebagai bahan diskusi pada mata kulia manejemen keperawatan
2.     Sebagai bahan informasi dan telaah yang berguna bagi pengembangan pengetahuan dan wawasan khususnya dalam lingkup kesehatan
3.     Sebagai bahan informasi dan bacaan bagi mahasiswa kesehatan


                                                                                                                                             


                                                                                                                                             






BAB II
PEMBAHASAN


A.    SISTEM  INFORMASI   MANAJEMEN  RUMAH   SAKIT


Dalam perkembangannya, rumah sakit masa kini bukan lagi berfungsi sebagai lembaga sosial semata, tetapi merupakan lembaga bisnis yang patut diperhitungkan keberadaanya. Perubahan fungsi ini terjadi dengan banyak ditemukannya penyakit-penyakit baru maupun teknologi pengobatan yang makin maju. Teknologi informasi telah mempengaruhi pula pelayanan rumah sakit, antara lain dibutuhkan dalam rangka memenuhi tuntutan masyarakat akan ketepatan dan kecepatan pelayanannya.

Dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit Departemen Kesehatan RI telah mengeluarkan kebijakan yang menjadi pedoman bagi penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun swasta. Sistem informasi rumah sakit merupakan salah satu komponen yang penting dalam mewujudkan upaya peningkatan mutu tersebut. Sistem informasi rumah sakit secara umum bertujuan untuk mengintegrasikan sistem informasi dari berbagai subsistem dan mengolah informasi yang diperlukan sebagai pengambilan keputusan.

Manajemen rumah sakit menghendaki pengelolaan rumah sakit yang efektif dan efesien. Efektif dalam arti tingkat keberhasilan penanganan terhadap pasien cukup tinggi dan efesien berarti optimal dalam penggunaan sumber daya rumah sakit yang ada. Suatu upaya serius dan terencana harus ditempuh agar keinginan tersebut dapat tercapai.

Dengan perkembangan beberapa rumah sakit di Indonesia akhir-akhir ini baik dari segi aspek administratif atau teknologi peralatan medis, maka proses pelayanan kesehatan di Indonesia dapat berangsur-angsur lebih baik. Untuk mengembangkan mutu pelayanan rumah sakit dibutuhkan beberapa fasilitas pendukung yang digunakan untuk proses pengolahan data rumah sakit dengan pemanfaatan teknologi komputer.

Teknologi yang dirancang khusus untuk membantu proses pengolahan data di rumah sakit adalah teknologi informasi berupa Sistem Informasi Manajemen (SIM) rumah sakit. Informasi merupakan aktivita (asset) penting suatu rumah sakit dalam meningkatkan efesiensi dan efektifitas pekerjaan. Era saat ini, banyak rumah sakit tidak menyadari berapa banyak informasi telah didapat dan diproses serta didistribusikan baik secara manual maupun secara komputerisasi.
Sistem informasi dapat dilakukan dengan metode manual maupun dengan metode komputerisasi yang seharusnya dirancang dan dikembangkan secara terencana dan terarah tetapi dengan semakin berkembangnya dan semakin kompleksnya sistem informasi di era jejaring informasi ini maka sistem informasi manajemen tidak akan dapat berfungsi sesuai yang diharapkan tanpa adanya dukungan elemen komputerisasi (Mulyadi, 2001).

Sistem informasi berbasis komputer memiliki kelebihan dalam hal kecepatan dan ketepatan. Ketepatan karena komputer dapat menyimpan serta mengelola data dalam kapasitas yang besar juga minimnya kesalahan yang dapat terjadi. Kecepatan dapat dilihat dari otomatisasi yang mampu dilakukan oleh komputer dengan dukungan sistem yang tepat dalam memberikan pelayanan bagi masyarakat.

Sistem informasi berbasis komputer juga berguna bagi peningkatan kinerja user dalam hal membantu mereka untuk mempermudah dan mempercepat pekerjaan mereka (Mahmudin, 2003).

1.      Pengertian

Sistem informasi manajemen (manajemen information system) atau disingkat sebagai MIS, merupakan penerapan sistem informasi di dalam organisasi untuk mendukung informasi yang dibutuhkan oleh semua tingkatan manajemen. Sistem Informasi Manajemen saat ini merupakan sumber daya utama, yang mempunyai nilai strategis dan mempunyai peranan yang sangat penting sebagai daya saing serta kompetensi utama sebuah organisasi dalam menyongsong era Informasi ini.

Sedangkan sistem informasi manajemen rumah sakit adalah suatu sistem berbasis komputer yang menghasilkan sekumpulan informasi yang telah diolah dan saling berinteraksi. Hasil informasi berupa laporan dan digunakan oleh pengguna dalam mengambil keputusan atau peningkatan upaya pelayanan.Sistem informasi rumah sakit umumnya mencakup masalah klinikas ( Media ), Pasien dan informasi-informasi yang berkaitan dengan kegiatan rumah sakit itu sendiri. Selain itu, Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit merupakan applikasi yang dirancang untuk kebutuhan pengelolaan Rumah Sakit baik swasta maupun negeri, dimana sistem ini sudah di dukung dengan fitur dan modul yang lengkap.

            Sistem informasi manajemen rumah sakit berfungsi untuk:
1.       Pengendalian mutu pelayanan
2.       Pengendalian mutu dan penilaian produktivitas
3.       Penyederhanaan pelayanan
4.       Analisis manfaat dan perkiraan kebutuhan
5.       Penelitian klinis
6.       Pendidikan
7.       Perencanaan dan evaluasi program

2.      Manfaat

            Manfaat yang didapatkan Rumah Sakit dengan menggunaan SIMRS ini adalah:
Proses-proses manajemen rumah sakit bisa terintegrasi antara satu bagian dengan bagian lainnya.

Pengendalian stok obat dan alkes multi gudang (multi apotek / floorstock) bisa dilakukan dengan lebih mudah karena posisi stock up to date-nya bisa diketahui setiap saat. Penagihan kepada pasien bisa dibuat dalam sebuah single billing statement untuk semua jasa perawatan yang telah diterima pasien. Riwayat penyakit dan perawatan (medical record) pasien bisa dikelola dan dipanggil dengan cepat dan otomatis. Analisis statistik diagnosa dan pembedahan terhadap pasien telah disesuaikan dengan standard yang telah ditetapkan WHO.
·         Memudahkan proses budgeting dan pengendalian realisasinya.
·         Memudahkan penyusunan rencana cash-flow dan pengendalian arus kas maupun bank.
·         Dengan SIMRS, resiko keterlambatan pembayaran atau penagihan hutang piutang bisa dikurangi.
·         Menjaga konsistensi data (data consistency) karena menggunaan data bersama (data sharing) baik data master (database pasien, dokter, perawat, karyawan dan obat) maupun data transaksi.
·         Pemanfaatan data keluaran / output dari suatu modul oleh modul lain (sebagai masukan/input) sehingga bisa dihindari adanya redundansi proses antar bagian.
·         SIMRS memberikan kemudahan dalam pembuatan laporan di semua unit, cepat dan akurat.
·         Pencetakan nota pembayaran, kuitansi, surat menyurat bisa dilakukan dengan mudah.
·         Efisiensi waktu entri data (entry time) karena hanya dilakukan sekali oleh bagian yang paling berkompeten.
·         Efisiensi kerja karyawan menjadi meningkat karena beberapa proses rutin seperti pembuatan laporan atau perhitungan-perhitungan dilakukan secara otomatis dan cepat. Dengan demikian karyawan lebih bisa berkonsentrasi kepada hal-hal yang bersifat stratgis.

3.       Keunggulan

            SIM Rumah Sakit yang dikembangkan Enigma memiliki keunggulan sistem yang akan memberikan keuntungan dalam implementasinya sebagai berikut :
a.      Terintegrasi
Merupakan satu kesatuan sistem secara keseluruhan sehingga meningkatkan esfisiensi operasional dan menghasilkan informasi dan laporan yang komprehensif.

b.      Modular
Dikembangkan dengan modul-modul dengan fleksibilitas tinggi sehingga memudahkan implementasi, pemeliharaan, dan penambahan modul baru.

c.       Klien-Server Arsitektur
Dirancang dengan arsitektur yang difungsikan untuk pengaksesan data dan transaksi dengan kapasitas besar yang meliputi business rules, user level, security dan metodology programming.

d.      Multi User - Multi Tasking
Dapat digunakan oleh banyak pengguna (user) secara bersama-sama tanpa menimbulkan interupsi sehingga proses data lebih cepat dan efektif.


e.       Scalable
Memiliki kemampuan tingkat skalabilitas yang tinggi. Kemampuan menyimpan data dapat ditingkatkan dan dikembangkan sesuai dengan teknologi dan kebutuhan.

f.        Reliable
Dilengkapi dengan sistem backup untuk keamanan data. Sistem Informasi Manajemen  (SIM) adalah serangkaian sub-sistem informasi yang meneyeluruh dan terkoordinasi dan secara rasional terpadu yang mampu mentransformasi data sehingga menjadi sebuah informasi lewat serangkaian cara guna meningkatkan produktivitas sesuai dengan gaya sifat manajer atas dasar kriteria mutu yang telah ditetapkan. Sistem Informasi Manajemen  (SIM) Adalah Menyeluruh.

            Kata “Manajemen” dalam SIM adalah serba melingkupi. Di dalam SIM termasuk sistem pemproses transaksi dan sistem-sistem yang utama dirancang bagi para manajer di berbagai tingkatan. Sebuah SIM melingkupi sitem informasi formal maupun yang informal, baik yang manual maupun yang berkomputer.

            Sistem Informasi Manajemen  (SIM) Adalah Terkoordinasi Komponen sebuah sistem informasi manajemen biasanya tidak dikelola dari satu titik pusat organisasi;  ada berbagai departemen pengguna, depatemen pemproses data, dan mungkin fungsi pengelola data yang terpisah, bahkan yang lain-lainya memiliki hak atas bagian tertentu dari sebuah sistem informasi manajemen.



Ø  Sistem Informasi Manajemen  (SIM) Memiliki Sub-sistem Informasi

            Sistem informasi manajemen dalah serangkaian sub-sistem, atau sistem komponen setengah terpisah yang merupakan bagian dari keseluruhan dan merupakan suatu sistem yang terpadu. Masing-masing dari sub-sistem menyumbang tercapainya sasaran sistem informasi manajemen dan organisasi.

Ø  Sistem Informasi Manajemen  (SIM) terinegrasi secara rasional

Sub-sistem (kumpulan dari sistem yang semi terpisah) adalah terpadu sehingga segala kegiatan dari masing-masing salin berkaitan satu dengan yag lainnya; integrasi ini dilakukan terutama dengan melewatkan data diantara sistem-sisten tersebut. Program data dan file dapat dirancang untuk menangani arus ata iantara sistem, dan prosedur manual dapat digunakan untuk melaksanakan integrasi tersebut.
           
            Sementara integrasi membuat pemprosesan informasi menjadi efisien dengan cara mengurangi pemprosesan antara (intermediate processing) dan peristiwa pemprosesan data yag sama oleh berbagai departemen, dan keuntungan yang menonjl adalah memberikan informasi lebih singkat, lengkap, dan relevan.

Ø  Sistem Informasi Manajemen  (SIM) Mentransformasikan Data Dengan Berbagai Cara

Apabila data dan diolah bagi manajer tertentu untuk tujuan tertentu, maka ia menjadi sebuah informasi  ada berbagai cara di mana data harus ditransformasikan ke dalam sebuah sistem informasi.
           
            Berbagai cara di mana sistem informasi manajemen harus mentransfomasikan data ke dalam sistem informasi ditentukan oleh sifat peronil suatau organisasi, sifat tugas kemana informasi ditujukan, dan pengaharapan dari penerima eksternal atau informasi.

Ø  Sistem Informasi Manajemen  (SIM) Meningkatkan Produktivitas

Sistem Informasi Manajemen  (SIM) dengan berbagai cara mampu meningkatkan produktivitas. SIM mampu menyediakan tugas rutin seperti penyiapan dokumen dengan efisien, ia mampu memberikan layanan terbaik bagi organisasi eksternal dan individu, dan ia juga mampu memberikan peringatan dini tentang masalah internal dan ancaman eksternal.


Ø  Sistem Informasi Manajemen  (SIM) Sesuai dengan Sifat dan Gaya Manajer

Suatu Sistem Informasi Manajemen  (SIM) dikembangkan lewat pengenalan atas sifat dan gaya manajerial dan personil yang akam menggunakannya, termasuk juga sumbangan yang akan diberikan oleh para manajer.

            Para perancang apabila akan mengembangkan sistem informasi manajemen harus mampu mempertimbangkan faktor manusiawi denan cermat. Apabila tidak demikian, maka sistem informasi yang dihasilkan tidak efisien atau akan disisihkan oleh penggunanya.

Ø  Sistem Informasi Manajemen  (SIM) Menggunakan Kriteria Mutu yang Telah Ditetapkan

Sebuah Sistem Informasi Manajemen  (SIM) harus dirancang agar sesuai dengan toleransi terhadap kecepatan, relevansi, dan ketepatan informasi. Toleransi ini bervariasi dari satu tugas ke tugas lainnya dan dari satu lapis ke lapis lainnya di dalam organisasi.

            Sebuah sistem informasi harus mampu memberikan suatu informasi yang relevan saja. Menetapkan mana informasi yang relevan mungkin sulit disaat analisis sedang berlangsusng dengan sangat bervariasi untuk setiap manajer yang berbeda, atau yang sesuai dengan keadaan, seperti dalam dunia keperawatan Sistem Informasi manajemen akan sangat diperlukan pada Asuhan Keperawatan, yaitu proses pendokumentasian perawatan pasien.


            Sistem Informasi Manajemen  (SIM) adalah serangkaian sub-sistem informasi yang meneyeluruh dan terkoordinasi dan secara rasional terpadu yang mampu mentransformasi data sehingga menjadi sebuah informasi lewat serangkaian cara guna meningkatkan produktivitas sesuai dengan gaya sifat manajer atas dasar kriteria mutu yang telah ditetapkan.

ü  Sistem Informasi Manajemen  (SIM) Adalah Menyeluruh
Kata “Manajemen” dalam SIM adalah serba melingkupi. Di dalam SIM termasuk sistem pemproses transaksi dan sistem-sistem yang utama dirancang bagi para manajer di berbagai tingkatan. Sebuah SIM melingkupi sitem informasi formal maupun yang informal, baik yang manual maupun yang berkomputer.

ü  Sistem Informasi Manajemen  (SIM) Adalah Terkoordinasi
Komponen sebuah sistem informasi manajemen biasanya tidak dikelola dari satu titik pusat organisasi; ada berbagai departemen pengguna, depatemen pemproses data, dan mungkin fungsi pengelola data yang terpisah, bahkan yang lain-lainya memiliki hak atas bagian tertentu dari sebua sistem informasi manajemen.

ü  Sistem Informasi Manajemen  (SIM) Memiliki Sub-sistem Informasi
Sistem informasi manajemen dalah serangkaian sub-sistem, atau sistem komponen setengah terpisah yang merupakan bagian dari keseluruhan dan merupakan suatu sistem yang terpadu. Masing-masing dari sub-sistem menyumbang tercapainya sasaran sistem informasi manajemen dan organisasi.

ü  Sistem Informasi Manajemen  (SIM) terinegrasi secara rasional
Sub-sistem (kumpulan dari sistem yang semi terpisah) adalah terpadu sehingga segala kegiatan dari masing-masing salin berkaitan satu dengan yag lainnya; integrasi ini dilakukan terutama dengan melewatkan data diantara sistem-sisten tersebut. Program data dan file dapat dirancang untuk menangani arus ata iantara sistem, dan prosedur manual dapat digunakan untuk melaksanakan integrasi tersebut. Sementara integrasi membuat pemprosesan informasi menjadi efisien dengan cara mengurangi pemprosesan antara (intermediate processing) dan peristiwa pemprosesan data yag sama oleh berbagai departemen, dan keuntungan yang menonjl adalah memberikan informasi lebih singkat, lengkap, dan relevan.

ü  Sistem Informasi Manajemen  (SIM) Mentransformasikan Data Dengan Berbagai Cara
Apabila data dan diolah bagi manajer tertentu untuk tujuan tertentu, maka ia menjadi sebuah informasi  ada berbagai cara di mana data harus ditransformasikan ke dalam sebuah sistem informasi. Berbagai cara di mana sistem informasi manajemen harus mentransfomasikan data ke dalam sistem informasi ditentukan oleh sifat peronil suatau organisasi, sifat tugas kemana informasi ditujukan, dan pengaharapan dari penerima eksternal atau informasi.

ü  Sistem Informasi Manajemen  (SIM) Meningkatkan Produktivitas
Sistem Informasi Manajemen  (SIM) dengan berbagai cara mampu meningkatkan produktivitas.
            SIM mampu menyediakan tugas rutin seperti penyiapan dokumen dengan efisien, ia mampu memberikan layanan terbaik bagi organisasi eksternal dan individu, dan ia juga mampu memberikan peringatan dini tentang masalah internal dan ancaman eksternal.

ü  Sistem Informasi Manajemen  (SIM) Sesuai dengan Sifat dan Gaya Manajer
Suatu Sistem Informasi Manajemen  (SIM) dikembangkan lewat pengenalan atas sifat dan gaya manajerial dan personil yang akam menggunakannya, termasuk juga sumbangan yang akan diberikan oleh para manajer.
            Para perancang apabila akan mengembangkan sistem informasi manajemen harus mampu mempertimbangkan faktor manusiawi denan cermat. Apabila tidak demikian, maka sistem informasi yang dihasilkan tidak efisien atau akan disisihkan oleh penggunanya.

ü  Sistem Informasi Manajemen  (SIM) Menggunakan Kriteria Mutu yang Telah Ditetapkan
Sebuah Sistem Informasi Manajemen  (SIM) harus dirancang agar sesuai dengan toleransi terhadap kecepatan, relevansi, dan ketepatan informasi. Toleransi ini bervariasi dari satu tugas ke tugas lainnya dan dari satu lapis ke lapis lainnya di dalam organisasi.
            Sebuah sistem informasi harus mampu memberikan suatu informasi yang relevan saja. Menetapkan mana informasi yang relevan mungkin sulit disaat analisis sedang berlangsusng dengan sangat bervariasi untuk setiap manajer yang berbeda, atau yang sesuai dengan keadaan, seperti
            Dalam dunia keperawatan Sistem Informasi manajemen akan sangat diperlukan pada Asuhan Keperawatan, yaitu proses pendokumentasian perawatan pasien.

*      Pendokumentasian Asuhan Keperawatan

            Pendokumentasian Keperawatan  merupakan hal penting yang dapat menunjang pelaksanaan mutu asuhan keperawatan. (Kozier,E. 1990).  Selain itu dokumentasi keperawatan merupakan bukti akontabilitas tentang apa yang telah dilakukan oleh seorang perawat kepada pasiennya. Dengan adanya pendokumentasian yang benar maka bukti secara profesional dan legal dapat dipertanggung jawabkan. Masalah yang sering muncul dan dihadapi di Indonesia dalam pelaksanaan asuhan keperawatan adalah banyak perawat yang belum melakukan pelayanan keperawatan sesuai standar asuhan keperawatan.  Pelaksanaan asuhan keperawatan juga tidak disertai pendokumentasian  yang lengkap. ( Hariyati, RT., th 1999).

            Pendokumentasian pada pemberian asuhan keperawatan dapat dilakukan secara manual atau berbasis komputer. Sampai saat ini sebagian kecil rumah sakit telah menggunakan dokumentasi proses keperawatan berbasis komputer. Namun informasi keperawatan yang tersedia belum terstandarisasi. Namun dengan kemajuan yang pesat pada teknologi informasi maka diharapkan perawat akan memanfaatkan teknologi tersebut pada dokumentasi keperawatan sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas asuhan keperawatan. Menurut Holmas (2003) terdapat beberapa keuntungan utama dari dokumentasi berbasis komputer yaitu:
1.      Standarisasi, terdapat pelaporan data klinik yang standar yang mudah dan cepat diketahui
2.      Kualitas, meningkatkan kualitas informasi klinik dan sekaligus meningkatkan waktu perawat berfokus pada pemberian asuhan.
3.      Accessibility & legibility, mudah membaca dan mendapat informasi klinik tentang semua pasien dan suatu lokasi  (Ratna Sitorus, 2006).
            Pendokumentasian keperawatan sudah saatnya untuk dikembangkan dengan berbasis komputer, walaupun demikian pendokumentasian asuhan keperawatan yang berlaku di beberapa rumah sakit di Indonesia umumnya masih menggunakan pendokumentasian tertulis.
                                                                                                                                       
      Padahal pendokumentasian tertulis ini mempunyai banyak kelemahan. Menurut Hariyati, RT (1999)  pendokumentasian tertulis ini sering membebani perawat karena perawat harus menuliskan dokumentasi pada form yang telah tersedia dan membutuhkan waktu banyak untuk mengisinya. Permasalahan  lain yang sering muncul adalah biaya pencetakan form mahal sehingga sering form pendokumentasian tidak tersedia. Pendokumentasian secara tertulis dan manual juga mempunyai kelemahan yaitu sering hilang. Pendokumentasian yang  berupa lembaran-lembaran kertas maka dokumentasi asuhan keperawatan sering terselip. Selain itu pendokumentasian secara tertulis juga memerlukan tempat penyimpanan dan akan menyulitkan untuk pencarian kembali jika sewaktu-waktu pendokumentasian tersebut diperlukan. Dokumentasi yang hilang atau terselip di ruang penyimpanan akan merugikan perawat. Hal ini karena tidak dapat menjadi bukti legal jika terjadi suatu gugatan hukum, dengan demikian perawat berada pada posisi yang lemah dan rentan terhadap gugatan hukum. Oleh karena itu pendokumentasian keperawatan yang menggunakan Sistem Informasi Manajemen Keperawatan perlu diterapkan, dimana fasilitas yang dibuat menjadi lebih lengkap, karena memuat berbagai aspek pendokumentasian seperti yang telah diuraikan diatas sistem ini memuat standar asuhan keperawatan, standart operating procedure (SOP), discharge planning, jadwal dinas perawat, penghitungan angka kredit perawat, daftar diagnosa keperawatan terbanyak, daftar NIC terbanyak, laporan implementasi, laporan statistik, resume perawatan, daftar SAK, presentasi kasus on line, mengetahui jasa perawat, monitoring tindakan perawat, dan monitoring aktifitas perawat laporan shift dan monitoring pasien oleh kepala ruang saat sedang rapat.

      Hal sesuai dengan pendapat Jasun (2006) yang mengatakan bahwa Sistem Informasi Manajemen Keperawatan merupakan “papper less” untuk seluruh dokumen keperawatan perlu diterapkan untuk pendokumentasian keperawatan pada masa yang akan datang. Hal ini didukung oleh pernyataan Sitorus (2006) yang mengatakan bahwa pendokumentasian pada pemberian asuhan keperawatan dapat dilakukan secara manual atau berbasis komputer. Namun terbukti bahwa penerapan berbasis komputer memberikan hasil yang lebih baik. Oleh karena itu untuk mendukung proses profesionlisme keperawatan di Indonesia, penerapan dokumentasi berbasis komputer menjadi sangat penting.

*             Standart Operating Procedure (SOP) dalam Asuhan Keperawatan

            Standar Operasional Prosedur adalah pedoman atau acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja instansi keperawatan berdasarkan indikator indikator teknis, administrasif dan prosedural sesuai dengan tata kerja, prosedur kerja dan sistem kerja pada unit kerja yang bersangkutan. Tujuan SOP dalam Asuhan Keperawtan adalah menciptakan komitment mengenai apa yang dikerjakan oleh satuan unit kerja dalam instansi yang berkaitan dengan keperawatan  untuk mewujudkan good nursing. Standart Operating Procedure (SOP) merupakan akitivitas dari NIC (Nursing Intervention Classification). NIC adalah sistem klasifikasi perawatan yang menggambarkan kegiatan yang dilakukan oleh perawat sebagian bagian dari proses keperawatan yang berasosiasi dengan pembuatan rencana asuhan keperawatan.

Perumusan SOP menjadi relevan karena sebagai tolak ukur dalam menilai efektivitas dan efisiensi kinerja perawatan dalam melaksanakan program kerjanya. Secara konseptual prosedur diartikan sebagai langkah - langkah sejumlah instruksi logis untuk menuju pada suatu proses yang dikehendaki. Proses yang dikehendaki tersebut berupa pengguna-pengguna sistem proses kerja dalam bentuk aktivitas, aliran data, dan aliran kerja. Prosedur operasional standar adalah proses standar langkah - langkah sejumlah instruksi logis yang harus dilakukan berupa aktivitas, aliran data, dan aliran kerja.

            Dilihat dari fungsinya, SOP berfungsi membentuk sistem kerja & aliran kerja yang teratur, sistematis, dan dapat dipertanggungjawabkan, menggambarkan bagaimana tujuan pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan kebijakan dan peraturan yang berlaku, menjelaskan bagaimana proses pelaksanaan kegiatan berlangsung; sebagai sarana tata urutan dari pelaksanaan dan pengadministrasian pekerjaan harian sebagaimana metode yang ditetapkan, menjamin konsistensi dan proses kerja yang sistematik, dan menetapkan hubungan timbal balik antar Satuan Kerja.

            Dengan adanya Sistem Informasi Manajemen (SIM), akan mempermudah dalam perumusan Standart Operating Procedure (SOP). Penyusunan data dapat dilakukan dengan sistem terkomputerisasi. Sebagai suatu instrumen manajemen, SOP berlandaskan pada sistem manajemen kualitas (Quality Management System), yakni sekumpulan prosedur terdokumentasi dan praktek-praktek standar untuk manajemen sistem yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu proses dan produk (barang dan/atau jasa) terhadap kebutuhan atau persyaratan tertentu. Sistem manajemen kualitas berfokus pada konsistensi dari proses kerja. Hal ini mencakup beberapa tingkat dokumentasi terhadap standar-standar kerja. Sistem ini berlandaskan pada pencegahan kesalahan, sehingga bersifat proaktif, bukan pada deteksi kesalahan yang bersifat reaktif. Secara konseptual, SOP merupakan bentuk konkret dari penerapan prinsip manajemen kualitas yang diaplikasikan untuk proses perawatan (Nursing Process).

            Tahap penting dalam penyusunan Standar operasional prosedur adalah melakukan analisis sistem dan prosedur kerja, analisis tugas, dan melakukan analisis  prosedur kerja.
1.      Analisis Sistem dan Prosedur Kerja
Analisis sistem dan prosedur kerja adalah kegiatan mengidentifikasikan  fungsifungsi utama dalam suatu pekerjaan, dan langkah-langkah yang diperlukan dalam melaksanakan fungsi sistem dan prosedur kerja.  Sistem adalah kesatuan unsur atau unit yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi sedemikian rupa, sehingga muncul dalam bentuk keseluruhan, bekerja, berfungsi atau bergerak secara harmonis yang ditopang oleh sejumlah prosedur yang diperlukan, sedang prosedur merupakan urutan kerja atau kegiatan yang terencana untuk menangani pekerjaan yang berulang dengan cara seragam dan terpadu.

2.      Analisis Tugas
Analisis tugas merupakan proses manajemen yang merupakan penelaahan yang mendalam dan teratur terhadap suatu pekerjaan, karena itu analisa tugas diperlukan dalam setiap perencanaan dan perbaikan organisasi. Analisa tugas diharapkan dapat memberikan keterangan mengenai pekerjaan, sifat pekerjaan, syarat pejabat, dan tanggung jawab pejabat. Di bidang manajemen dikenal sedikitnya 5 aspek yang berkaitan langsung dengan analisis tugas yaitu : 
a.       Analisa tugas, merupakan penghimpunan informasi dengan sistematis dan penetapan seluruh unsur yang tercakup dalam pelaksanaan tugas khusus.
b.      Deskripsi tugas, merupakan garis besar data informasi yang dihimpun dari analisa tugas, disajikan dalam bentuk terorganisasi yang mengidentifikasikan dan menjelaskan isi tugas atau jabatan tertentu. Deskripsi tugas harus disusun berdasarkan fungsi atau posisi, bukan individual;  merupakan dokumen umum apabila terdapat sejumlah personel memiliki fungsi yang sama; dan mengidentifikasikan individual dan persyaratan kualifikasi untuk mereka serta harus dipastikan bahwa mereka memahami dan menyetujui terhadap wewenang dan tanggung jawab yang didefinisikan itu.
c.       Spesifikasi tugas berisi catatan-catatan terperinci mengenai kemampuan pekerja untuk tugas spesifik.
d.      Penilaian tugas, berupa prosedur penggolongan dan penentuan kualitas tugas untuk menetapkan serangkaian nilai moneter untuk setiap tugas spesifik dalam hubungannya dengan tugas lain.
e.       Pengukuran kerja dan penentuan standar tugas merupakan prosedur penetapan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap tugas dan menetapkan ukuran yang dipergunakan untuk menghitung tingkat pelaksanaan pekerjaan.

            Melalui analisa tugas ini tugas-tugas dapat dibakukan, sehingga dapat dibuat pelaksanaan tugas yang baku. Setidaknya ada dua manfaat analisis tugas dalam penyusunan standar operasional prosedur yaitu membuat penggolongan pekerjaan yang direncanakan dan dilaksanakan serta menetapkan hubungan kerja dengan sistematis.

3.      Analisis prosedur kerja
Analisis prosedur kerja adalah kegiatan untuk mengidentifikasi urutan langkahlangkah pekerjaan yang berhubungan apa yang dilakukan, bagaimana hal tersebut dilakukan, bilamana hal tersebut dilakukan, dimana hal tersebut dilakukan, dan siapa yang melakukannya. Prosedur diperoleh dengan merencanakan terlebih dahulu bermacam-macam langkah yang dianggap perlu untuk melaksanakan pekerjaan. Dengan demikian prosedur kerja dapat dirumuskan sebagai serangkaian langkah pekerjaan yang berhubungan, biasanya dilaksanakan oleh lebih dari satu orang, yang membentuk suatu cara tertentu dan dianggap baik untuk melakukan suatu keseluruhan tahap yang penting.  Analisis terhadap prosedur kerja akan menghasilkan suatu diagram alur (flow chart) dari aktivitas organisasi dan menentukan hal-hal kritis yang akan mempengaruhi keberhasilan organisasi. Aktivitas-aktivitas kritis ini perlu didokumetasikan dalam bentuk prosedurprosedur dan selanjutnya memastikan bahwa fungsi-fungsi dan aktivitas itu dikendalikan oleh prosedur-prosedur kerjayang telah .terstandarisasi.

*      Proses Evaluasi Keperawatan
           
            Meskipun proses keperawatan mempunyai tahap-tahap, namun evaluasi berlangsung terus menerus sepanjang pelaksanaan proses keperawatan (Alfaro-LeFevre, 1998). Tahap evaluasi merupakan perbandingan yang sistematik dan terencana tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya. Evaluasi dalam keperawatan merupakan kegiatan dalam menilai tindakan keperawatan yang telah ditentukan, untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan klien secara optimal dan mengukur hasil dari proses keperawatan.

            Menurut Craven dan Hirnle (2000), evaluasi didefenisikan sebagai keputusan dari efektifitas asuhan keperawatan antara dasar tujuan keperawatan klien yang telah ditetapkan dengan respon prilaku klien yang tampil. Tujuan dari evaluasi antara lain:
1.      Untuk menentukan perkembangan kesehatan klien.
2.      Untuk menilai efektifitas, efisiensi, dan produktifitas dari tindakan keperawatan yang telah diberikan.
3.      Untuk menilai pelaksanaan asuhan keperawatan.
4.      Mendapatkan umpan balik.
5.      Sebagai tanggungjawab dan tanggunggugat dalam pelaksanaan pelayanan keperawatan

      Perawat menggunakan berbagai kemampuan dalam memutuskan efektif atau tidaknya pelayanan keperawatan yang diberikan. Untuk memutuskan hal tersebut dalam melakukan evaluasi seorang perawat harus mempunyai pengetahuan tentang standar pelayanan, respon klien yang normal, dan konsep model teori keperawatan. Langkah-langkah evaluasi :
1.      Menentukan kriteria, standar dan pertanyaan evaluasi
2.      Mengumpulkan data baru tentang klien
3.      Menafsirkan data baru
4.      Membandingkan data baru dengan standar yang berlaku
5.      Merangkum hasil dan membuat kesimpulan
6.      Melaksanakan tindakan yang sesuai berdasarkan kesimpulan

            Dalam melakukan proses evaluasi, ada beberapa kegiatan yang harus diikuti oleh perawat, antara lain:
1)      Mengkaji ulang tujuan klien dan kriteria hasil yang telah ditetapkan.
2)      Mengumpulkan data yang berhubungan dengan hasil yang diharapkan.
3)      Mengukur pencapaian tujuan.
4)      Mencatat keputusan atau hasil pengukuran pencapaian tujuan.
5)      Melakukan revisi atau modifikasi terhadap rencana keperawatan bila perlu.

            Dalam mengumpulkan data pasien yang begitu banyak dalam suatu rumah sakit, tentunya dibutuhkan suatu sistem untuk mempermudah pengumpulan dan penyusunan data-data dari pasien. Disinilah Sistem Informasi Manejemen akan bermanfaat pada proses komputerisasi pengumpulan data. Sehingga proses pengumpulan data pasien akan lebih mudah dilakukan, dan proses evaluasi dalam asuhan keperawatan dapat lebih terkoordinasi. Sehingga peluang kesalahan dalam evaluasi dapat di perkecil. Pada dasarnya evaluasi akan menentukan intervensi pasien selanjutnya. Sehingga kesalahan kecil saja dapat berdampak fatal pada keselamatan jiwa pasien.

·        Faktor Yang Mendukung dan Menghambat Sistem Informasi Manajemen dalam Proses Asuhan Keperawatan
           
            Dalam perkembangannya, penerapan Sistem Informasi Manajemen (SIM) terdapat beberapa faktor yang mendukung dan menghambat SIM tersebut untuk diterapkan dalam suatu lembaga institusi. Sistem informasi manajemen (SIM) berbasis komputer banyak kegunaannya, namun pelaksanan SIM di Indonesia masih banyak mengalami kendala. Faktor pendukung Sistem Informasi Manajemen (SIM) dalam proses keperawatan adalah faktor yang dapat mempermudah proses penerapan SIM dalam Asuhan Keperawatan. Ada beberapa faktor pendukung dalam pelaksanaan SIM keperawatan di Indonesia yaitu saat ini sudah mulai ada perusahaan (yang dikelola oleh profesi keperawatan) yang menawarkan produk SIM keperawatan yang siap pakai untuk diterapkan di rumah sakit. Sekalipun memiliki harga yang cukup tinggi tetapi keberadaan perusahaan ini dapat mendukung pelaksanaan SIM keperawatan di beberapa rumah sakit yang memiliki dana cukup untuk membeli produk tersebut. Semakin mudahnya akses informasi tentang pelaksanaan SIM keperawatan juga memudahkan rumah sakit dalam memilih SIM yang tepat.

            Faktor pendukung yang lain adalah adanya UU No 8 tahun 1997 yang mengatur tentang keamanan terhadap dokumentasi yang berupa lembaran kertas. Undang-undang ini merupakan bentuk perlindungan hukum atas dokumen yang dimiliki pusat pelayanan kesehatan, perusahaan atau organisasi. Aspek etik juga dapat menjadi salah satu faktor pendukung karena sistem ini semaksimal mungkin dirancang untuk menjaga kerahasiaan data pasien. Hanya orang-orang tertentu saja yang boleh mengakses data melalui SIM ini, misalnya dokter, perawat, pasien sendiri.

            Selain faktor pendukung, terdapat beberapa aspek yang menjadi kendala dalam penerapan SIM di Indonesia. Memutuskan untuk menerapkan sistem informasi manajemen berbasis komputer ke dalam sistem praktek keperawatan di Indonesia tidak terlalu mudah. Hal ini karena pihak manajemen harus memperhatikan beberapa aspek yaitu struktur organisasi  keperawatan di Indonesia, sebagai contoh  pengambil keputusan/kebijakan bukan dari profesi perawat, sehingga seringkali keputusan tentang pelaksanaan SIM yang sudah disepakati oleh tim keperawatan dimentahkan lagi karena tidak sesuai dengan keinginan pengambil kebijakan. Pihak manajemen rumah sakit masih banyak yang mempertanyakan apakah SIM keperawatan ini akan berdampak langsung terhadap kualitas pelayanan keperawatan dan kualitas pelayanan rumah sakit secara keseluruhan.
           
            Aspek kedua adalah kemampuan sumber daya keperawatan. Ada banyak sumber daya manusia di institusi pelayanan kesehatan yang belum siap menghadapi sistem komputerisasi, hal ini dapat disebabkan karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan mereka terhadap sistem informasi teknologi yang sedang berkembang. Pemahaman yang kurang tentang manfaat SIM menjadi salah satu faktor penyebab ketidaksiapan SDM keperawatan.

      Aspek  ketiga yang menjadi faktor penghambat atau kendala dalam pelaksanaan SIM adalah faktor sumber dana. Sebagaimana kita tahu bahwa untuk mendapatkan sistem informasi manajemen keperawatan yang sudah siap diterapkan di rumah sakit, membutuhkan biaya yang cukup besar . Masalahnya sekarang, tidak setiap rumah sakit memiliki dana operasional yang cukup besar, sehingga seringkali SIM keperawatan gagal diterapkan karena tidak ada sumber dana yang cukup. Aspek keempat adalah kurangnya fasilitas Information technology yang mendukung. Pelaksanaan SIM keperawatan tentunya membutuhkan banyak perangkat keras atau unit komputer untuk mengimplementasikan program tersebut.

·        Alternatif Pemecahan Masalah Penerapan SIM dalam Asuhan Keperawatan di Indonesia

      Ada beberapa alternatif pemecahan masalah penerapan SIM dalam asuhan keperawatan di Indonesia diantaranya;
1.      Perlu adanya pemahaman yang sama diantara pihak manajemen rumah sakit dengan tim keperawatan tentang pentingnya pelaksanaan SIM keperawatan di rumah sakit yang diwujudkan dalam bentuk pengalokasian dana yang memadai untuk implementasi SIM keperawatan, pemberian pelatihan bagi perawat tentang pelaksanaan SIM keperawatan, pengadaan fasilitas informasi teknologi yang memadai.
2.      Perlu adanya integrasi program SIM dalam kurikulum pendidikan keperawatan.
3.      Peningkatan standarisasi tingkat pendidikan perawat agar memiliki pemahaman yang tepat tentang teknologi informasi dalam keperawatan.
4.      Adanya aspek legal berupa Undang-undang praktek keperawatan.
5.      Perlu adanya penelitian yang lebih jauh terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan aplikasi SIM di Indonesia.
6.      Perlu adanya peningkatan Sumber Daya Masyarakat dari perawat itu sendiri agar mampu mengahadapi dan mengaplikasikan proses keperawatan yang terkomputerisasi.

















BAB III
PENUTUP


A.    KESIMPULAN

      Sistem Informasi Manajemen  (SIM) adalah serangkaian sub-sistem informasi yang meneyeluruh dan terkoordinasi dan secara rasional terpadu yang mampu mentransformasi data sehingga menjadi sebuah informasi lewat serangkaian cara guna meningkatkan produktivitas sesuai dengan gaya sifat manajer atas dasar kriteria mutu yang telah ditetapkan.

            Dalam dunia keperawatan Sistem Informasi manajemen akan sangat diperlukan pada Asuhan Keperawatan, yaitu proses pendokumentasian perawatan pasien. Pendokumentasian Keperawatan merupakan hal penting yang dapat menunjang pelaksanaan mutu asuhan keperawatan. (Kozier,E. 1990). Selain itu dokumentasi keperawatan merupakan bukti akontabilitas tentang apa yang telah dilakukan oleh seorang perawat kepada pasiennya. Dengan adanya pendokumentasian yang benar maka bukti secara profesional dan legal dapat dipertanggung jawabkan. Sistem Informasi manajemen (SIM) berbasis komputer banyak kegunaannya, namun pemanfaatan Sistem Informasi Manajemen di Indonesia masih banyak mengalami kendala. Hal ini mengingat komponen-komponen yang ada dalam sistem informasi yang dibutuhkan dalam keperawatan masih banyak kelemahannya.

            Kendala SIM yang lain adalah kekahawatiran hilangnya data dalam satu hard-disk. Pada kondisi tersebut hilangnya data telah diantisipasi sebagai perlindungan hukum atas dokumen perusahaan yang diatur dalam UU No. 8 Tahun 1997. Undang-undang ini mengatur tentang keamanan terhadap dokumentasi yang berupa lembaran kertas, namun sesuai perkembangan tehnologi, lembaran yang sangat penting dapat dialihkan dalam Compact Disk Read Only Memory (CD ROM). CD ROM dapat dibuat kopinya dan disimpan di lain tempat yang aman . Pengalihan ke CD ROM ini bertujuan untuk menghindari hilangnya dokumen karena peristiwa tidak terduga seperti pencurian komputer, dan kebakaran.

            Sistem Informasi Manajemen dalam asuhan keperawatan dapat diaplikasikan pada beberapa proses keperawatan, diantaranya yaitu proses pendokumentasian, proses pembuatan Standart Operating Procedure (SOP), dan proses Evaluasi keperawatan.

            Dalam perkembangannya, penerapan Sistem Informasi Manajemen (SIM) terdapat beberapa faktor yang mendukung dan menghambat SIM tersebut untuk diterapkan dalam suatu lembaga institusi. Sistem informasi manajemen (SIM) berbasis komputer banyak kegunaannya, namun pelaksanan SIM di Indonesia masih banyak mengalami kendala. Faktor pendukung Sistem Informasi Manajemen (SIM) dalam proses keperawatan adalah faktor yang dapat mempermudah proses penerapan SIM dalam Asuhan Keperawatan. Sedangkan faktor pengahambat SIM adalah faktor yang dapat mempersulit penerapan Sistem Informasi Manejemen dalam asuhan keperawatan.

B.     SARAN

      Dari paparan diatas, kami sebagai penulis memberikan beberapa saran guna peningkatan kualitas Sistem Informasi Manajemen dalam Asuhan Keperawatan dan rumah sakit.

            Dalam penerapan SIM itu sendiri seharusnya perlu adanya peningkatan dari perawat yang akan menjadi tokoh utama dalam menerapkan Sitem Informasi Manajemen Asuhan Keperawatan dan rumah sakit. Dengan integrasi Sistem Informasi Manajemen dan kurikulum yang diajarkan dalam pendidikan keperawatan. Hal tersebut nantinya akan membuat para perawat mampu mengahadapi perkembangan tekniologi yang segala sesuatunya sudah menggunakan sistem yang terkomputerisasi.












                                                                                                                                             








DAFTAR PUSTAKA

Rideout, elizabeth. 2005. Pendidikan Keperawatan Berdasarkan Problem-Based Learning. Jakarta : EGC

Kozier, E. 1990. Fundamentals of Nursing. Addison Wesley Co., Redwood City

M.Scott, George. 2004. Prinsip-Prinsip Sistem Informasi Manajemen. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada

Carpenito. 1985. Nursing diagnosis application to clinical practice. J.B. Lippincott Co.,. Philadephia
































1 komentar: